Sejarah Doa dan Mantra Mantra Orang Jawa

 

Mantra kuno penolak bala

Sejarah Doa dan Mantra Mantra Orang Jawa | Dengan tujuan untuk membuat senang, tenang dan bersahabat dengan sosok Dhanyang desa pada masa lalu maka masyarakat selalu membakar kemenyan, mengucap doa dengan hitungan yang biasnaya bersifat ganjil dan doa tersebut adalah (…. adalah kata yang dihilangkan karena sifatnya artikel ini adalah informasi dan pengetahuan bukan untuk mengajarkan ulang) :

“Bhutara lungguh ing sela, butarati lungguh ing bumi ….. kun dhanyang genderuwa, ulun ing bumi jaya srenggara retuning dhanyang, dhanyang tuwa, kan bebuyut” Sejarah Doa dan Mantra Mantra Orang Jawa

Mantra berpergian
Lalu ketika seseorang ingin berpergian jauh baik antar desa maupun menyeberang pulau maka akan dibacakan mantra untuk meminta bantuan kepada dhanyang desa, meminta srana dengan mengucap mantra sebanyak tiga kali yaitu :

“…….., genderuwa, olehne dhanyang ngela dasar ing bumi, bumi tuwa buyute dhanyang desa ….(sebut nama desa), dhanyang desa …..(sebuat desa tujuan)…, ingsung ewangana muji: apa sun puji?…. (niat)…, luputa lara, lupute panca bala, lupute bilahi kabeh, ingsunn urip, warasna sabab berkate kiyai dhanyang”

Mantra pengasihan dan pelet
Mantra ini dibaca ketika ada seseorang jatuh hati kepada lawan jenisnya dan dengan membaca mantra tertentu maka diharapkan mendapat bantuan dari dhanyang desa, dengan cara membakar kemenyan dan wangi wangian lains erta mengucap mantra dengan hitungan ganjil sebagai berikut :

“Sun awatek aji gana-sela pacek, ……….., tengah peripatku kumala, idepku mas sacengkang, alusku mas sagulung, lairku sikumbang, ali aliku si suta olehe demen marang aku, lali kembene lali tapihe, …. iyo aku si janka”

Sedangkan doa doa kadang ditujukan untuk melepaskan seseorang dari penyakit yang disebabkan oleh beberapa sebab semisal sambangbanger, ajian jaian hitam, hantu hantu dan penyakit fisik juga termasuk. Tatacara yang dilakukan biasanya dengan mengucapkan doa serta memperhatikan daerah daerah yang sakit pada bagian tubuh seseorang, di Jawa sendiri doa dan penyembuhan penyakit diucapkan pada waktu wkatu dan hari tertentu.

Waktu dan hari untuk pengobatan

Sabtu, pada hari ini biasanya dipakai untuk membaca doa pengobatan area kuping kanan, tumit serta tulang tulang dan sendi.
Kamis, pada hari ini biasanya dipakai untuk membaca doa pengobatan area kuping kiri, paha, kaki dan saluran urat urat nadi.
Selasa, pada hari ini biasanya dipakai untuk membaca doa pengobatan area dahi, hidung, batok kepala, alat kelamin dan urat urat.
Minggu, pada hari ini biasanya dipakai untuk membaca doa pengobatan untuk mata kanan, jantung dan organ dalam titik kehidupan.
Jumat, pada hari ini biasanya dipakai untuk membaca doa pengobatan area dagu, serta area pipi, leher, pinggang dan susunan pembuluh darah
Rabu, pada hari ini biasanya dipakai untuk membaca doa pengobatan area mulut, tangan, isi perut serta susunan syaraf syaraf tubuh.
Senin, pada hari ini biasanya dipakai untuk membaca doa pengobatan area dada, mata kiri, sistem pembuangan dan keringat, air liur, limpa dan sebagainya.

Penyembuhan dilakukan dengan membakar dupa serta wewangian atau dengan bunga bunga sambil membaca doa dengan hitungan ganjil,sedangkan pasien/orang sakit disembuhkan/diterapi dan dibacakan mantra dengan kedua tanganya memegang buah pinang, sedangkan doanya yang diucap adalah:
“si ketek, dunungmu ana ing lo doyong”

Sesudah doa diucapkan dan ritual lain dilakukan maka buah pinang tersebut harus dibuang dan dimaksudkan untuk memberi simbol serta pernyataan bahwa dengan membuang buah pinang tersebut adalah juga membuang penyakit dari tubuh orang yang sakit.
Sedangkan untuk emnyembuhkan penyakit tulang dan sendi maka doa doa dilakukan kepada sambangbanger, dan sesuai urutan hari hari tadi sembari membakar kemenyan dan membaca doa:
“banyu apa pangananmu?, banyu putih!, balike, tak jur dadi banyu adem, arep katiban idu putih!”

Bagikan artikel menarik ini
About mataketiga 205 Articles
seorang penggiat blog dan penyuka dunia spiritual yang mencurahkan pemikiran dalam blog, silahkan berkomentar dan jika ingin menyebarkan artikel ini dalam web atau blog pribadi harap sertakan link sumber yaitu mataketiga.com,.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*