kerajaan pertama di pulau jawa

peta jaman ketika tanah jawa masih menyatu dengan asia

leluhur orang jawa

Leluhur Orang Jawa | Tujuan dikirimkanya patih tersebut antara lain untuk menyelidiki nasih koloni perpindahan ke pulau Jawi sebab ada kabar bahwa banyak dari mereka yang kabur dan entah apakah selamat atau tidak dan apakah lalu mendirikan koloni koloni kecil terpisah, menjadi korban binatang buas dan dikabarkan dengan runut kepada raja Dekhan oleh patihnya sekembalinya dari pulau Jawi tersebut.

Setelah itu dikerahkanlah lagi perpindahan penduduk gelombang ketiga dengan dibekali peralatan yang memadai dengan jumlah laki laki dan perempuan yang sama 20.000 masing masingnya, perbekalan meliputi alat pertanian dan bekal untuk makan selama setengah tahun agar orang orangnya bisa melawan ganasnya alam dan tidak lagi kabur seperti gelombang kedua. Dari perpindahan penduduk gelombang ketiga tersebut membuahkan beberapa desa dengan nama Ngawu, Hawu Langit, Dewarawati, Mandakara, Ngamarta dan beberapa desa lainya.
Gelombang ketiga ini dapat bertahan dan lama kelmaan berkembang dan menyebar kebeberapa penjuru pulau Jawi dan tetap memeluk kepercayaan Animisme serta beberapa pengembanganya, hingga pada 100 tahun sebelum masehi diadakan lagi gelombang perpindahan keempat yang berisikan orang orang dengan agama Hindu Wasiya. Orang orang gelombang keempat ini berisi dari pedagang, petani dan beberapa kalangan lain dan tidak sedikit pula karena mengungsi setelah daerah asalnya didera berbagai permasalahan dan harus meninggalkan India.

Gelombang keempat ini dikatakan mendarat dan menetap didaerah Pasuruan hingga Probolinggo dan secara bertahap membuat perkampungan, desa desa baru sepanjang pesisir pantai selatan yang berpusat pada kerajaan Singosari, dan setelah beberapa waktu kemudian bergeser/pindah kepada pemerintahan kerajaan Kedi (sekarang Kediri) namun siapa raja dan catatan lengkap setelahnya dalam kerajaan Kedi tidaklah lengkap/jelas.
Namun dikatakan dalam cerita turun temurun bahwa kerajaan Kedi mempunyai seorang ratu bernama Nyai Kedi yang memegang singgasana Kedi pada era 900 tahun sesudah masehi, lalu banyak dari keturunan Hindu Wasiya dimasukan dalam kerajaan Mendang yang juga disebut kerajaan Kamulan, Ngastina, Gajah Huiya dan raja yang memerintah Kerajaan tersbeut adalah Jayabaya yang memindahkan singgasananya ke Kediri dan kerajaan barunya yang bernama Doho.