babad tanah jawi jawa

penggambaran sosok Prabu Jaiya Baiya

leluhur orang jawa

Raja Jayabaya bukan saja seorang raja namun beliau juga seorang Cerdik (ilmuwan) yang melahirkan ramalan ramalan seperti yang kita kenal sebagai Jangka Jayabaya tentang pulau Jawi/Jawa hingga pada tahun 2074, meski ada anggapan bahwa raja Jayabaya dan Aji Saka adalah orang yang sama namun ternyata setelah ditelusuri bahwa Aji Saka mengambil gelar sebagai Prabu Jaiya Baiya sewaktu ia dinobatkan menjadi raja jadi mereka bukanlah orang yang sama.

Aji Saka sendiri menurut cerita kuno lainya dikatakan bahwa ia adalah bawahan dari Prabu Jaiya Baiya yang merupakan keturunan dari Arjuna raja Astina, dan dititahkan untuk menyelidiki kepulauan nusantara pada tahun 78 sesudah masehi dan mendarat di pantai timur laut pulau Jawa yang waktu itu masih benama Nusa Kendang dan kemudian setelah berhasil menaklukan kerajaan Mendang yang dirajai oleh Dewara Cengkar dan mengusirnya namun Aji Saka dapat dikalahkan oleh Daniswara puetra Dewata Cengkar yang membuat Aji Saka kembali lagi ke Astina.
Setelah Prabu Jaiya Baiya mangkat (meninggal) pada 125 sesudah masehi maka Aji Saka sudah menjadi dewasa (berumur) dan turut serta orang orang Budha menuju pulau Jawa dan kemudian mengalahkan kerajaan Mendang dan memindahkan Mendang ke daerah Puwodadi (sekarang). dan memerintah sebagai raja kerajaan tersebut. Dikatakan juga seiring munculnya Aji Saka tersebut lahirlah babad tanah Jawa, perhitungan perhitungan tahun pada era 125 sesudah masehi, koloni orang orang Budha tersebut akhirnya menetap di pantai selatan pulau Jawa yaitu di Barung dan Tembini pada sekitar tahun 444 hingga terpisahnya Tembini dari Jawa.

Secara berurutan perpindahan orang orang menuju pulau Jawa yang menganut agama Budha yang akan menjadi leluhur Leluhur Orang Jawa adalah :

157 sesudah masehi pindah dan menetap di daerah yang sekarang bernama Jepara
163 sesudah masehi pindah dan menetap di daerah yangs ekarang bernama Tegal, Banyumas
174 sesudah masehi pindah dan menempati menempati pegunungan Tengger
193 sesudah masehi pindah dan menempati daerah yang bernama Kedu
216 sesudah masehi pindah dan menempati daerah Madiun (sekarang)
252 sesudah masehi pindah dan menempati daerah Yogyakarya (sekarang)
272 sesudah masehi pindah dan menempati daerah Kediri (sekarang)
295 sesudah masehi pindah dan menempati daerah Ngawi, Bojonegoro (sekarang)
312 sesudah masehi pindah dan menempati daerah Kudus (sekarang)
314 sesudah masehi pindah dan menempati daerah Mojokerto (sekarang)
424 sesudah masehi pindah dan menempati daerah Surakarta (sekarang)

Selanjutnya pada abad ke-5, 6, 7 penduduk dari India yang melakuakn gelombang perpindahan dengan berbagai macam latar belakang datang secara berurutan dengan jumlah yang tidak tentu lagi, seperti pada tahun 450 sesudah masehi dikatakan terjadi perpindahan yang mendarat dan menepati daerah disekitar sungai Cisadane dan Citarum Jawa barat. Dari situ nanti terbentuklah kerajaan dengan raja yang bernama Raja Purnawarman yang dikenal dengan keberanian dalam melawan, bertahan maupun menyerang kerajaan kerajaan tataran Sunda lainya.